Sangkar Emas




Suasana yang hening, ayah memanggilku untuk duduk di tengah keluarga yang saya sangat cintai, keluarga yang apapun mereka minta saya akan berikan. Tak biasanya kami berkumpul seperti ini, maklum saja, ayah sangat sibuk mengurusi bisnisnya, ibu pun begitu, sedangkan kakak sudah punya rumah sendiri dengan suaminya. Saya anak bungsu dari 3 bersaudara. Semua pandangan tertuju pada saya, tersenyum sumbringah. Saya bingung, ini ada apa? Inikan bukan 8 Agustus, saya belum berulang tahun, tanya dalam hati. Ayah mulai berbicara, masih saja pandangannya tajam pada saya, mata yang penuh harap.
“Fatih, ayah ini sudah tua nak, ibumupun begitu, sebelum Tuhan memanggil, kami ingin menyelesaikan tugas kami, tinggal kamu anak ayah yang belum menikah. Ayah sudah punya calon untukmu, dia cantik dan anak dari keluarga terpandang (teman bisnis ayah), kami sudah bercerita tentang rencana pernikahan kalian di Desember ini”
Saya tercengang mendengar kalimat penuh harap dari ayah. Jantung saya berdetak lebih kencang dari detakan sebelumnya. Saya pucat mendengarnya, ini peristiwa sakral, saya masih muda, masih banyak mimpi saya yang belum terwujud, saya masih ingin banyak belajar diusia muda.
Tapi yah … “kataku”
Nak dengarkan kata ayah !
***
Akhirnya 13 Desember 2013 menjadi hari paling bersejarah dalam hidup saya. Saya melangsungkan pernikahan dengan Siska anak Pak Dito teman bisnis ayah. Semua menyambut gembira acara itu. Senang rasanya bisa melihat ayah, ibu, dan keluarga lain bisa tersenyum.  Tuhan,,, saya menerima takdirmu dengan ikhlas, jadikan kami keluarga zakinah mawaddah dan warahmah.  
***
Lima tahun berlalu setelah hari pernikahan kami. Orang-orang sudah mulai bertanya tentang hadiah yang paling ditunggu dari pasangan suami istri seperti umumnya, tak terkecuali ayah dan ibu, yang setiap hari menanyakan itu. Ya tentang kehamilan istri saya.
“Bagimana nak? Apakah ayah dan ibu sudah bisa menimang cucu lagi”.
Beberapa orang memberikan saran agar saya dan Siska periksa ke rumah sakit, ada juga yang menyarankan ke dukun. Bahkan kata mereka kami ini mandul. Mendengar itu, saya hanya bisa menanggapinya dingin “Tuhan punya rencana yang baik untuk kami”, sembari tersenyum, seperti semuanya baik-baik saja.
***
“Tuhan, maafkan saya belum bisa memberi satu arti untuk ayah dan ibu, saya terima ini sebagai ujian-Mu, dan sayaselalu yakin engkau maha tahu, maha kasih, dan maha sayang kepada hambanya, engkau tak akan mungkin menguji hambamu yang tak mampu dipikulnya, Berilah hidayah kepada istri hamba ya Tuhan, saya sangat mencintai keluarga yang kupersaksikan dihadapan-Mu”

Doa disujud tahajjud terakhirku, memindai embun sepertiga malam ke bola mataku, membasahi sajadah sujudku.

Lima tahun saya bersama siska, menjalani keluarga ini dengan penuh kesabaran. Saya tak pernah sedikitpun menyentuh kulitnya, meskipun ia adalah istri saya yang sah. Inilah jawaban kenapa saya belum bisa memberikan cucu kepada orang yang sangat saya cintai. Siska tidak pernah bisa menerima perjodohan kami, karena terpaksa ia menikah dengan saya. Ya,,, alasan yang sama tak ingin mengecewakan orang tua. Siska punya laki-laki lain yang sangat ia cintai, dia adalah laki-laki yang sejak SMP bersamanya menjalin cinta. Setelah pernikahan kami, Siska sangat sering melamun, tidak bisa diajak cerita, bahkan tak jarang ia ke diskotik untuk melampiaskan kekesalannya, dia seperti tidak bisa menerima takdir pernikahan ini. Kami punya masalah yang sama, tapi cara kami memperlakukannya berbeda. Tak ada keharmonisan, kami seperti burung yang dipenjara dalam sangkar emas. Terkadang saya marah, tapi tak juga ia memperdulikannya. Saya hanya bisa bersabar berharap suatu saat nanti dia bisa membukakan hatinya untuk menerima saya sebagai suaminya.

Tuhan …
 saya selalu percaya ujian-Mu untuk imanku dan Engkau selalu punya rencana yang baik untuk kami, Pintaku”

***

About Me

Diberdayakan oleh Blogger.

Daftar Keren